Indonesia Merdeka, Peternakan Kita ???

logo-resmi-kemerdekaan-indonesia-ke-70

            17 Agustus 2015 ini bangsa Indonesia genap berusia 70 tahun. Berbagai macam hal sudah mewarnai perjalanan bangsa kita sampai umur saat ini, susah, senang, sedih, bahkan cucuran darah. Berbagai macam peristiwa sudah terjadi mulai dari korupsi, bencana alam, wabah penyakit, bahkan sampai perubahan tonggak kepemimpinan. Namun hal yang dirasakan bangsa kita belum merdeka seutuhnya, terutama bidang peternakan kita.

Jika kita berbicara mengenai peternakan Indonesia, banyak terdapat peristiwa yang terjadi juga. Mulai dari isu swasembada daging yang telah di wacanakan pada tahun 2000, wabah penyakit yang menyerang beberapa daerah, kasus suap impor daging sapi, bahkan sampai saat ini yang sedang hangat masalah kouta impor daging sapi yang menyebabkan harga daging melambung naik. Berarti secara eksplisit peternakan kita belum merdeka.

Bidang peternakan merupakan salah satu bidang pangan yang merupakan salah satu komoditas yang paling utama dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Sektor peternakan banyak menghasilkan komoditas berupa daging, telur, dan susu yang menjadi konsumsi sehari-hari masyarakat Indonesia. Namun bidang ini mengalami banyak kendala dan hambatan sehingga sektor peternakan Indonesia tidak mengalami kemajuan dan hanya cenderung bergerak di tempat. Sektor ini banyak dikuasai oleh pihak-pihak asing sehingga bangsa Indonesia hanya sebagai tujuan penjualan dari komoditas-komoditas peternakan tersebut. Padahal Indonesia memiliki sumber daya alam yang melimpah dalam hal industri pangan ini. Namun hal-hal tersebut tidak menjadikan Indonesia kuat dalam bidang pangan. Oleh karena itu, salah satu kebijakan pemerintahan Republik Indonesia pada saat ini adalah memfokuskan pada masalah ketahanan pangan untuk masyarakatnya.

Kemudian tantangan kita muncul menjelang pasar bebas ASEAN 2015 yang akan mulai awal Januari 2016 nanti. Kesiapan Indonesia dalam sektor peternakan untuk menghadapi pasar bebas ASEAN masih sangat kurang dan bisa dibilang belum siap dalam menghadapi pasar bebas ASEAN ini. Namun siap atau tidak siap pasar bebas ASEAN sudah didepan mata kita dan bangsa Indonesia harus siap menghadapi hal tersebut. Kurangnya kesiapan Indonesia dalam hal daya saing, infrastruktur, dan penggunaan teknologi bila dibandingkan dengan beberapa negara ASEAN lainnya. Hal ini dapat menurunkan posisi tawar (Bargaining Position) negara Indonesia di bidang ekonomi khususnya ekspor dan impor. Selain itu, saat ini biaya logistik pada bidang peternakan di Indonesia masih terbilang tinggi jika dibandingkan negara Asia Tenggara lainnya. Logistik Indonesia belum memberikan output yang sepadan dengan biaya yang dikeluarkan. Kemudian masalah transportasi merupakan komponen yang berpengaruh pada biaya yang cukup besar di bidang peternakan Indonesia karena letak geografis dan kondisi wilayah Indonesia yang dinamis. Contohnya saja biaya transportasi untuk impor sapi potong dari Australia menuju Indonesia lebih murah dibandingkan dengan biaya transportasi lokal walaupun jarak tempuh lebih dekat. Hal ini menimbulkan harga kebutuhan pangan yang relatif besar akibat adanya penambahan biaya dari sektor transportasi (Syukur Iwantoro, Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan 2014).

Selain itu masalah akses transportasi yang sulit serta biaya transportasi yang relatif besar, terdapat beberapa hambatan lagi bagi kemajuan peternakan Indonesia :

  • Sistem perdagangan yang belum tertata dengan baik (persyaratan administrasi yang sulit dan memerlukan banyak biaya serta tenaga kerja untuk mengurusi administrasi tersebut).
  • Program pemerintah yang belum mengarah kepada kepentingan rakyat dan cenderung masih menyulitkan rakyat. Contohnya : pada program kredit usaha pembibitan sapi dan tingkat bunga dalam perkreditan yang masih sangat besar bagi peternakan rakyat.
  • Biaya pakan yang relatif tinggi akibat adanya kartel pakan pabrik.
  • Keterbatasan ilmu pengetahuan dari para peternak dan peran penyuluh yang kurang aktif dalam memberikan informasi dan pengetahuan kepada para peternak.
  • Kordinasi kementerian-kementerian terkait dalam masalah bidang peternakan yang menghambat proses usaha peternakan.
  • Kebutuhan alat-alat peternakan, pakan, bibit, dll yang masih tergantung dengan kebutuhan impor.
  • Kurangnya sinergisasi antara pemerintah, akademisi, pengusaha dan peternak rakyat.
  • Kurangnya perhatian pemerintah terhadap sumber daya genetic lokal khususnya dalam mematenkan suatu karya cipta.
  • Belum adanya perusahaan Breeding yang memiliki usaha skala komersial.
  • Perusahaan-perusahaan penggemukan sapi potong kurang meminati ternak lokal sebagai barang komoditasnya.
  • Masih rendahnya budaya konsumsi masyarakat Indonesia terhadap daging.
  • Kurangnya dukungan pemerintah kepada perusahaan-perusahaan BUMN yang bergerak di bidang peternakan.
  • Belum optimalnya pemanfaatan lahan perkebunan sebagai lahan peternakan.
  • Permaslaahan kouta impor daging yang masih dianggap kurang efektif.
  • Dan masih banyak lagi

Hal tersebut merupakan permasalahan yang harus segera diselesaikan oleh pemerintah Indonesia di umur 70 tahun ini khususnya di bidang peternakan.

Kedaulatan pangan bukan hanya sekedar tugas atau tanggung jawab dari salah satu pihak saja karena butuh kerjasama dari berbagai macam pihak jika ingin mewujudkan suatu kedaulatan pangan. Secara garis besar pihak-pihak terkait yang dapat membantu mewujudkan kedaulatan pangan bangsa Indonesia, diantaranya : Pemerintah, Akademisi, Masyarakat, peternak rakyat, dan para pengusaha. Pihak tersebut yang dapat membantu kedaulatan pangan secara internal dengan adanya sinergisitas antar pihak-pihak tersebut.

Pemerintah merupakan salah satu pilar penting dalam peternakan Indonesia. Pemerintah berwenang dalam hal pembuat kebijakan-kebijakan yang berkaitan tentang peternakan sehingga menguntungkan peternak rakyat dan melindungi aset-aset berharga yang dimiliki oleh Indonesia dalam bidang peternakan. Pemerintah juga bertugas dalam menyusun program-program berkelanjutan yang mengutamakan program pembangunan peternakan baik skala kecil, menegah, dan besar. Pemerintah juga berwenang dalam memberikan kredit usaha bagi peternak yang ingin memulai usaha peternakan dengan bunga kredit yang terjangkau sehingga pembayaran kredit dan usaha peternakan masyarakat dapat berlangsung secara sehat. Pemerintah juga berwenang dalam proses penyaluran bibit unggul, penelitian dalam bidang peternakan, penyuluhan, dan terus memerhatikan kebutuhan-kebutuhan yang diperlukan oleh peternak dalam mengembangkan usaha peternakannya. Kebijakan–kebijakan yang dibuat pada tahun 2015 harus mengacu kepada kondisi AEC 2015. Hal tersebut dimaksudkan untuk menjaga kedaulatan dan kepentingan Indonesia di bidang pangan khususnya sektor peternakan. Karena pada tahun 2015 proses perdagangan akan berlangsung secara global dan memungkinkan akan tergerusnya sumber daya alam lokal. Proses pembaharuan standarisasi barang-barang yang masuk ke Indonesia juga harus ditingkatkan karena untuk menjaga kualitas barang yang masuk sehingga masyarakat Indonesia menerima dan mengkonsumsi barang-barang dengan kualitas yang bagus. Kemudian pemerintah harus mengembangkan perusahaan-perusahaan breeding skala komersial agar ternak-ternak lokal mempunyai kualitas yang unggul. Disamping itu kementerian pertanian yang membawahi bidang peternakan harus saling bekerjasama dengan kementerian lain agar masalah-masalah peternakan yang ditimbulkan akibat adanya permasalahan yang menyangkut bidang lain dapat terselesaikan.

Akademisi merupakan salah satu pilar penting dalam memajukan kedaulatan pangan Indonesia. Akademisi memiliki peran dalam mengembangkan suatu ilmu pengetahuan yang mendukung kemajuan bidang peternakan dan menguatkan sumber daya alam lokal yang dapat digunakan untuk memajukan sektor peternakan Indonesia. Pemerintah harus mendukung proses penilitan yang dilakukan oleh akademisi dalam mengembangkan sektor peternakan Indonesia. Salah satunya dengan memberikan fasilitas untuk melakukan penelitian, memberikan bantuan dana penelitian, dan mempublikasikan sekaligus mematenkan hasil-hasil penelitian yang dilakukan agar tidak di klaim oleh negara lain sehingga bisa menjadi sumber daya lokal. Namun saat ini, dukungan pemerintah terhadap penelitian-penilitian yang dilakukan oleh akademisi baik dosen maupun mahasiswa masih belum maksimal dan terkesan lepas tangan. Padahal hal ini sangat membantu proses perkembangan bidang peternakan Indonesia. Kemudian akademisi memiliki tugas dalam pengabdian kepada masyarakat untuk memberikan ilmu yang didapatkan kepada para peternak. Sehingga para peternak rakyat yang umumnya memiliki pengetahuan yang rendah dapat memajukan peternakannya. Proses pengabdian yang dilakukan dapat berupa penyuluhan-penyuluhan dengan memerhatikan permasalahan yang ada dimasyarakat. Sehingga penyuluhan yang dilakukan tepat sasaran dan dapat menyelesaikan masalah. Kemudian akademisi dapat melakukan bina desa terhadap desa-desa yang memiliki keterbatasan ataupun masalah dalam bidang peternakan. Hal ini dimaksudkan agar masyarakat bisa belajar dalam menyelesaikan suatu masalah yang terjadi dan dapat berjuang secara mandiri untuk menghadapi suatu permasalah yang akan terjadi. Akademisi juga dapat membantu pemerintah dalam menentukan arah suatu kebijakan yang berkaitan dengan dunia peternakan. Akademisi juga dapat berperan sebagai tim ahli yang dapat membantu pemerintah dalam menyelesaikan suatu permasalahan jika pemerintah membutuhkan bantuan.

Masyarakat merupakan salah satu bagian pilar penting dalam industri peternakan. Masyarakat merupakan pasar atau tempat tujuan dimana komoditas-komoditas peternakan diperjual-belikan. Masyarakat juga merupakan aset penting untuk mendukung berkembangnya suatu usaha peternakan. Namun yang menjadi kendala adalah budaya konsumsi masyarakat untuk mengkonsumsi daging masih sangat minim. Hal ini disebabkan karena perbedaan budaya, kebiasaan, kemampuan, dan tingkat ekonomi masyarakat Indonesia. Pada negara berkembang mengkonsumsi daging atau susu merupakan hal yang kurang lazim dilakukan karena hal tersebut bukan merupakan menu harian dan biasanya masyarakat hanya mengkonsumsi sayur-sayuran atau umbi-umbian sebagai konsumsi harian mereka. Kemudian kebiasaan masyarakat yang lebih suka mengkonsumsi produk-produk luar negeri juga harus dirubah. Karena hal ini justru dapat memajukan perusahaan-perusahaan asing dibandingkan perusahaan dalam negeri. Oleh karena itu, butuh dukungan masyarakat juga untuk dapat memajukan suatu usaha peternakan jangan sampai para peternak lokal kehilangan pasar untuk menjual hasil-hasil peternakannya.

Pengusaha peternakan memiliki peranan penting dalam mengatur kebijakan usaha peternakan Indonesia. Pengusaha juga berperan dalam mempengaruhi kebijakan-kebijakan yang dibuat oleh pemerintah. Kemudian pengusaha berperan dalam mengatur stabilitas harga komoditas peternakan yang dijual. Pengusaha-pengusaha di bidang peternakan berfungsi sebagai sumber pemasukan negara Indonesia. Pengusaha dan pemerintah harus berjalan secara bersamaan, kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah juga harus mendukung kondisi atomosfir usaha peternakan sehingga kegiatan usaha peternakan di Indonesia dapat berkembang dan berlangsung secara sehat. Pengusaha-pengusaha peternakan asal Indonesia bisa dijadikan suatu tolak ukur kekuatan ekonomi peternakan Indonesia. Karena pengusaha Indonesia bisa menjadi garda terdepan dalam menentukan posisi tawar Indonesia di mata dunia dan pengusaha Indonesia bisa menjadikan bidang peternakan Indonesia berdaulat dalam bidang pangan sehingga tidak ketergantungan secara terus-menerus terhadap negara lain.

Peternakan rakyat merupakan suatu pilar yang tidak boleh dilupakan dalam komponen peternakan Indonesia walaupun tidak memberikan dampak yang signifikan terhadap peternakan Indonesia tapi peternak rakyat merupakan salah satu pilar pendukungnya. Peternak rakyat merupakan salah satu komponen yang harus dikembangkan karena peternak rakyat di Indonesia tersebar hampir di seluruh kepulauan Indonesia. Namun usaha peternakan rakyat masih sangat minim karena kondisi ekomoni masyarakat dan ilmu pengetahuan peternak tersebut. Jika pemerintah, akademisi dan pengusaha peternakan bisa mengembangkan para peternak rakyat maka kekuatan Indonesia dalam bidang pangan akan berdaulat. Peternak rakyat hanya memiliki beberapa ternak yang dipelihara, hal ini tidak cukup untuk mengembangkan suatu usaha peternakan disamping itu pengetahuan peternak di bidang peternakan juga minim. Hal ini merupakan kendala yang harus diselesaikan oleh pihak-pihak lain disamping masalah modal yang dialami. Pemerintah harus mendukung peternak rakyat dengan menyediakan kebutuhan berupa bantuan bibit, kredit, dan pasar untuk menjual ternaknya. Akademisi harus membantu peternak dalam masalah ilmu pengetahuan sehingga peternak dapat mengembangkan peternakannya dengan baik. Pengusaha harus membantu peternak dalam hal proses penjualan, pengusaha harus memberdayakan komoditas peternakan yang dihasilkan oleh peternak sehingga peternak dapat memperoleh hasil penjualan yang dapat digunakan untuk mengembangkan usahanya kembali. Sinkronisasi antara pemerintah, akademisi, dan pengusaha untuk memajukan peternak Indonesia harus terus dikembangkan sehingga para peternak Indonesia bisa sejahtera dan para peternak rakyat bisa menjadi sumber kekuatan pangan Indonesia. Sehingga kebutuhan pangan Indonesia tidak tergantung dengan negara lain dan kedaulatan pangan pun akan tercipta.

Kedaulatan suatu bangsa dapat tercipta dengan adanya dukungan dari berbagai macam pihak. Tanpa ada dukungan dari berbagai pihak mustahil kedaulatan negara dapat tercipta. Begitu juga dengan kedaulatan pangan, perlu adanya kerjasama dan sinergitas antara berbagai macam pihak jika ingin mewujudkan suatu kedaulatan pangan. Indonesia merupakan negara yang besar dimana suatu negara besar harus bisa mandiri dan berdiri sendiri tanpa ketergantungan dari negara atau bangsa lain. Negara yang berdaulat harus memiliki fondasi yang kuat untuk menopang segala aktivitas yang ada pada negara tersebut. Jika suatu fondasi yang disusun tidak kuat maka akan hancurlah suatu negara.

Atas Nama Peternakan Indonesia

Bid. Advokasi, Aksi, dan Propaganda PB. ISMAPETI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s