Gonjang-Ganjing Masalah Daging Indonesia

cut

Permasalahan daging Indonesia memasuki babak baru dalam masa pemerintahan yang berbeda. Jika kita masih ingat peristiwa yang lalu, kita dikejutkan oleh peristiwa suap impor daging sapi yang menjerat salah satu politisi partai. Kemudian permasalahan daging kita memasuki babak baru, yaitu harga daging kita melambung sangat tinggi yang tidak bisa di jangkau masyarakat Indonesia.

Permasalahan ini dimulai ketika pemerintah membuat kebijakan “Pengurangan Kouta Impor Daging Sapi”. Pemerintah menetapkan bahwa kouta impor sapi dari luar Indonesia dibatasi menjadi 400.000 ekor. Kouta impor tersebut dibagi kedalam tiga kuartal, yaitu : kuartal pertama 100.000 ekor, kuartal kedua 250.000, dan kuartal ketiga 50.000 ekor. Pada kuartal ketiga inilah muncul suatu masalah yaitu naiknya harga daging sapi di pasaran karena stok dilapangan tidak ada sehingga membuat para pedagang menjadi mogok berjualan.

Jika kita melihat latar belakang ini semua ada pertanyaan besar dimana peran peternak lokal kita dalam menjaga kestabilan daging sapi di Indonesia. Secara garis besar, jika kita bisa mengambil pokok permasalahan utama yang menjadi masalah daging kita adalah Permasalahan Demand dan Supply dan Perencanaan Kebijakan Pemerintah yang Kurang Tepat. Permasalahan Demand dan Supply ini merupakan masalah klasik yang sudah ada sejak lama karena kita sama-sama tahu jika jumlah permintaan daging di pasaran sangat tinggi sedangkan para peternak lokal kita tidak bisa memenuhi permintaan itu. Kemudian masalah perencaan kebijakan inilah yang patut untuk kita soroti karena banyak hal yang terjadi setelahnya.

Kebijakan pembatasan kouta impor daging ini memiliki banyak pro dan kontra. Jika kita melihat sisi positif dari kebijakan ini dengan adanya pembatasan kouta impor maka para peternak lokal kita memiliki banyak kesempatan lebih banyak untuk menjual dagingnya di pasaran. Kemudian dengan harga daging sapi yang tinggi menjadi stimulus buat peternak kita untuk kembali bergairah dengan usaha peternakannya. Pembatasasn kouta ini juga menjadi salah satu langkah kita untuk mengurangi ketergantungan kita akan impor dari Australia, dsb.

Berikut salah satu berita di tempo jika peternak rakyat kita setuju dengan kebijakan tersebut.

http://m.tempo.co/read/news/2015/08/10/090625/peternak-sapi-lokal-minta-pemerintah-tak-impor-sapi

Kemudian jika kita melihat sisi negatifnya, daya beli masyarakat akan daging pun menurun dampaknya harga daging yang melampau tinggi. Kemudian pedagang di pasar melakukan mogok kerja, demonstrasi para pedagang, dsb.

Ada hal yang patut kita perhatikan di balik aksi mogok para pedagang pasar. Jika kita sama-sama tau alokasi kouta daging impor di Indonesia diperuntukkan oleh oleh kalangan menengah atas seperti supermarket, restoran, hotel, dan sejenisnya. Sedangkan alokasi daging sapi di pasar lokal kita disuplai oleh para peternak lokal. Maka logikanya seharusnya para pedagang daging dipasar tidak perlu mogok karena kouta impor yang dibatasi. Kemudian pertanyaan besar muncul apakah ada permainan besar dibalik peristiwa mogoknya pedagang ini karena sama-sama kita ingat kalo permasalahan kouta impor ini rawan sekali adanya mafia-mafia daging seperti beberapa waktu silam.

Kami dai ISMAPETI (Ikatan Senat Mahasiswa Peternakan Indoensia) melihat kondisi saat ini sebagai efek kurangnya persiapan pemerintah dalam menangani permasalahan yang timbul akibat kebijakan ini dan kurangnya perencanaan dalam mempersiapkan dampak yang timbul akibat kebijakan impor ini. Kemudian penanganan yang dilakukan pemerintah kurang komprehensif dan hanya bersifat sementara dengan melakukan operasi pasar bahkan dengan membuka keran impor kembali sebanyak 50.000 ekor sapi melalui bulog seharusnya pemerintah melakukan penanganan secara menyeluruh mulai dari hulu ke hilir karena kita sama-sama tau masalah utama peternakan sangatlah kompleks tapi kita tidak boleh hanya menyalahkan pemerintah karena bagaimana pun juga pemerintah sudah melakukan segala yang terbaik untuk peternakan Indonesia.

Dirjen peternakan saat ini, dibawah kepemimpinan Prof. Dr. Ir. Muladno, MS sedang gencar menggalakkan program SPR (Sekolah Peternakan Rakyat). Hal ini dibuktikan dengan rencana akan mengimpor 1 juta indukan dari India dan Brazil yang akan menambah populasi indukan. Ada hal yang harus kita perhatikan dibawah kebijakan ini karena berkaitan dengan anggaran. Prediksi anggaran yang ada untuk impor bakalan yang ada sekarang hanya 50.000 ekor. Kemudian dialihkan ke indukan yang menembus angka 1 juta dari pembatasan tersebut dapat menggangu stabilitas harga yang membuat harga sapi lokal naik yang imbasnya harga daging sapi lokal pun naik.

Ada beberapa hal yang harus kita perhatikan dibandingkan itu semua karena pasti ada efek domino yang akan terjadi. Kemarin tanggal 11 Agustus 2015, terdapat berita di stasiun TV swasta jika peternak sapi di Jawa Timur akan melakukan pemotongan sapi betina produktif jika keadaan ini tidak berubah. Kemudian di bandung, harga-harga komoditas lain mengalami kenaikan seperti daging ayam. Setalah itu mendengar kabar pedagang daging di pasar yang mogok berjualan, terdengar kabar beberapa RPH (Rumah Pemotongan Hewan) melakukan stop pemotongan sebagai bentuk protes penurunan impor. Jika kita perhatikan stok daging di pasar berasal dari RPH walaupun stok sapi ada tetapi RPH melakukan stop pemotongan rantai daging ke pasar pun berhenti.

ISMAPETI melihat permasalahan ini sebagai sesuatu masalah yang janggal karena ada sesuatu masalah dibalik peristiwa ini semua. Ada beberapa peristiwa yang aneh terjadi yang patut untuk kita soroti bersama, yaitu :

  1. Mogoknya pedagang daging sapi di pasar

Menurut pengamat ekonomi Ichsanuddin Noorsy, “pasokan daging sapi di Indonesia sebanyak 80% di alokasikan kepada peternak lokal dan 20% dialokasikan untuk kepentingan impor terdapat kejanggalan karena alokasi 20% impor itu diperuntukkan untuk kepentingan kalangan menengah atas seperti supermarket, restoran mewah, hotel, dan sejenisnya dan alokasi 80% diperuntukkan oleh peternak lokal kita untuk memenuhi kebutuhan pasar tradisional. Kemudian pengamat ekonomi melihat akibat mogok pedagang ini kerugian yang di alami tidaklah sedikit karena ditaksir hampir mencapai ratusan miliar rupiah. Maka dari itu peristiwa ini rawan sekali terdapat kepentingan-kepentingan golongan.”

  1. Rencana pemerintah untuk mengimpor 1 juta indukan dari India dan Brazil.

Rencana pemerintah ini patut untuk kita perhatikan karena selama ini bangsa Indonesia memiliki ketergantungan impor sapi dari Australia. Hal ini mengindikasikan bahwa pemerintah ingin mengurangi ketergantungannya terhadap Australia dan ada kemungkinan terdapat motif politik luar negeri yang terselubung. Kemudian kita sama-sama tau jika India dan Brazil merupakan negara yang memiliki riwayat PMK (Penyakit, Kuku, dan Mulut) yang sampai sekarang masih menjangkit beberapa wilayah di negara tersebut.

  1. Penggiringan Opini Publik.

Kita sama-sama tau kondisi perekonomian negara kita sedang mengalami kemunduran. Hal ini terbukti dengan nilai tukar rupiah kita sedang terpuruk yang mencapai nilai Rp. 13.400 dan pertumbuhan ekonomi kita sebesar 4,7 persen. Nah dengan adanya isu daging ini, sedikit mengalihkan perhatian masyarakat dari masalah tadi menuju masalah isu naiknya harga daging ini.

  1. Kenaikan harga daging yang hanya terjadi di wilayah Jabodetabek dan Jawa Barat.

Keanehan kembali muncul karena harga daging hanya naik diwilayah Jabodetabek dan Jawa Barat sedangka daerah-daerah lain di wilayah Bali, Jawa timur, dan daerah lain tidak terdengar kenaikan harganya karena cenderung harganya relatif stabil. Hal ini mengindikasikan terdapat sesuatu yang janggal pada peristiwa ini. Kemudian ada indikasi jika terdapat permainan para importir untuk mempermainkan harga dipasaran.

  1. Efek Domino Kenaikan Harga Daging

Akibat melambungnya harga daging sapi, banyak kebutuhan barang pokok juga menjadi ikut naik diantaranya harga daging ayam yang juga ikut naik. Harga awal di pasaran dareah jabodetabek berkisar Rp.23.000 kini menjadi Rp.29.000 per Kg. Jika hal ini terus berlanjut maka akan berdampak pada harga kebutuhan pokok yang lain.

Hal tersebut yang menjadi tanda tanya besar dibalik peristiwa ini semua. Kami dari ISMAPETI mengajak seluruh teman-teman mahasiswa, masyarakat, stakeholder, peternak, dll untuk lebih cermat dan selektif dalam menyerap berita yang diterima. Jangan sampai kita terbawa oleh arus pemberitaan sehingga dapat menambah kekeruhan suasana. Kita harus sama-sama mencari solusi yang terbaik untuk permasalahan ini.

Kemudian kami menghimbau kepada pemerintah untuk lebih memperkuat jaringan perdagangan daging di Indonesia jangan sampai pemerintah terdikte oleh para importir. Pemerintah seharusnya dapat mengendalikan harga dan jika perlu masyarakat Indonesia lah yang mengendalikan pasar.

Atas Nama Peternakan Indonesia.

Bid. Advokasi, Aksi dan Propaganda PB. ISMAPETI Periode 2014-2016

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s