Swasembada Daging 2014

Tampaknya kasus korupsi penambahan kuota impor daging oleh seorang petinggi partai politik memberikan dampak positif karena membuat booming lagi program pemerintah tentang swasembada daging yang sempat hilang ditelan eforia politik. Rupiah yang menggiurkan lebih dipentingkan daripada mencapai kemandirian pangan Negara sendiri oleh segelintir orang dalam pengelolaan impor daging. Pemerintah indonesia  melalui kementerian pertanian telah mencanangkan program swasembada daging 2014. Bukan hanya wacana belaka, diharapkan program ini terealisasi tepat pada waktunya. Program ini sebenarnya telah ada sejak tahun 2010 silam, karena  alasan belum adanya dukungan dana yang memadai. Selain itu program tersebut justru menghadapi tantangan dan permasalahan baik dari aspek teknis, ekonomi, sosial, kebijakn-kebijakan pendukungnya serta koordinasi antar elemen yang terkait masih lemah, maka program tersebut diundur menjadi 2014.

Swasembada daging sendiri bertujuan agar Negara Indonesia mencapai kemandirian pangan hewani yang berdampak pada pemberdayaan ekonomi masyarakat serta pengembangan wilayah melalui agroindustri sektor peternakan dalam mengelola produksi daging untuk kebutuhan domestik secara menyeluruh maupun internasional. Sayangnya, sampai saat ini untuk memenuhi kebutuhan daging nasional, Indonesia harus mengimpor dari Negara-negara importir seperti AS dan Kanada. Konsumsi daging sapi per kapita bangsa Indonesia saat ini mencapai 1,87 kg. Indonesia memerlukan 448.000 ton daging sapi per tahun, sekitar 85% berasal dari produksi daging local, sedangkan sisanya dari impor Negara lain. Dampaknya, dengan menjadi Negara pengimpor,  maka posisi tawar kita dalam percaturan politik dunia menjadi lebih lemah. Selain itu, impor dari negara lain juga membuka peluang bagi masuknya penyakit-penyakit ternak yang belum pernah ada sebelumnya di Indonesia.

Sentra produksi daging sapi di Indonesia menyebar di wilayah Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Nusa Tenggara Barat. Daerah-daerah tersebut merupakan sentral peternakan sapi di Indonesia Selama ini pasokan daging sapi sebagian besar diperoleh dari wilayah Jawa Tengah dan Jawa timur.. Permintaan daging sapi yang tinggi untuk wilayah Jawa dan Sumatra menyebabkan pasokan daging dari Jawa tengah dan jawa timur tidak dapat mencukupi jumlah yang harus dipenuhi. Inilah menjadi alasan mengapa harus dilakukan impor daging sapi. Padahal jika menambahkan pasokan daging dari wilayah Nusa Tenggara Barat, masalah kelangkaan daging sapi serta keterbatasan daging sapi di pasaran dapat teratasi tanpa melakukan impor daging. Menurut siaran stasiun TV lokal Indonesia, masalah impor daging sapi dapat diatasi dengan pasokan daging sapi dari daerah NTB dan sekitarnya, sebelumnya pemerintah beralasan, pasokan sapi dari NTB mengalami kesulitan dalam hal transportasi yang akan mengakibatkan sapi akan mati dalam perjalanan, maupun daging yang akan membusuk. Selain itu tidak ada kapal khusus yang dapat mengangkut ternak dari wilayah tersebut ke pulau Jawa, sehingga pemerintah lebih memilih impor daging. Alasan yang dirasa kurang rasional, sebab dengan biaya untuk melakukan pengimporan daging sebesar 3.7 triliun tentu akan sama bahkan lebih rendah dengan melengkapi dan mengembangkan sarana prasarana akses transportasi yang dapat membawa sapi dari wilayah NTB ke pulau Jawa. Hal ini tentu dapat terwujud jika pengelolaannya ditangani secara professional tanpa mencari keuntungan.

Program swasembada daging sebenarnya telah lama terealisasi jika sistem manajemen dan produksi daging sapi di Indonesia dikelola secara maksimal tanpa ada kepentingan individu maupun kelompok untuk mencari keuntungan pribadi. Memang harus kita sadari bahwa meskipun jumlah sapi dalam negeri cukup untuk memenuhi kebutuhan pasar, namun struktur pasar kita juga tidak efisien. Sebab pengadaan daging sapi ini lebih banyak diusahakan oleh sistem peternakan rakyat yang bersifat informal dan tidak semata mata untuk memenuhi kebutuhan konsumsi daging. Sebagian besar peternak sapi ini juga menjadikan sapi sebagai aset mereka untuk masa depan, sehingga tidak bisa sewaktu waktu di potong untuk memenuhi kebutuhan pasar. Mereka baru menjual dan memotong daging sapi tatkala ada kebutuhan mendesak. Belum lagi peternak sapi lokal yang umumnya bersifat tradisional dan kecil, dengan lokasi yang tersebar di segala penjuru sehingga bisa menyebabkan biaya logistik untuk pengadaan daging menjadi mahal. Namun demikian jika sektor peternakan tersebut diolah sebagai usaha industri tersendiri, maka masalah-masalah tersebut dapat terselesaikan. Pemerintah juga harus berperan dalam menumbuh kembangkan peternak lokal yang umumnya kecil dan diusahakan secara tradisional, pada sisi lain pemerintah juga harus menumbuhkan peternak lokal menjadi kuat yang diusahakan secara lebih modern. Pendapatan para peternak-peternak itu pun 100% akan berasal dari kegiatan tersebut, dengan demikian kesejahteraan para peternak dapat tercapai.Pembangunan peternakan sebagai industri dapat terlaksana memerlukan dasar trilogi peternakan yaitu Bibit, pakan, serta manajemen. Ketiga unsur tersebut diimplementasikan dalam kesisteman agribisnis yang meliputi (1) subsistem pengadaan sarana produksi ternak. (2) sudsistem budidaya, (3) subsistem industri pengolahan, (4) subsistem pemasaran, (5) subsistem jasa-jasa kelembagaan . Selain itu dibutuhkan komitmen dan konsisten terhadap visi, kesadaran semua pelaku agribisnis peternakan, kesadaran konsumen sebagai penarik yang menimbulkan permintaan, kesadaran aparat birokrasi sebagi pencipta pendorong iklim berkembangnya budaya industri yang kompetitif dan adil serta kesadaran peternak selaku produsen input peternakan dan jasa kelembagaan yang harus senantiasa memenuhi kebutuhan konsumen yang selalu meningkat. Dengan demikian program swasembada daging sapi 2014 yang dicanangkan pemerintah  pusat dapat terealisasi nyata dengan kerja keras semua pihak. (Hadianto/UNS)

2 pemikiran pada “Swasembada Daging 2014

  1. Boleh mengirim artikel/tulisan seputar peternakan ke blog ini?
    salam Saya Iwang Mahasiswa Fakultas Peternakan Unpad

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s