Tim Adhoc Swasembada : Mensiasati Negara Lupa Bangsa

Saya menjadi sangat tertarik saat pelaksanaan Rapat Kerja Nasional, peserta sangat antusias membahas tentang eskalasi gerak ke depan. Apalagi isu yang saya tawarkan di paparan peserta, sangat lezat untuk dinikmati selama rentang dua tahun ke depan. Concern dan fokus isu ke depan hanya ada dua dalam skala makro, yakni Pengawalan pembentukan Kementerian peternakan dan akselerasi program swasembada daging 2014. Menjadi perhatian dan penekanan saya sejak awal, ketika program swasembada daging tidak terjadi di tahun 2014. Maka, langkah-langkah revolutif dengan berat hati kami ambil sebagai jalan juang terakhir kami.

Persimpangan jalan itu adalah reaksi atas tempat pengambilan kebijakan yang dipilih oleh pemerintah. Entah jalan yang pro rakyat, pro peternak atau pro korporasi, pro lembaga keuangan dan pro dagang internasional atau malah pro Negara adidaya ekonomi. Celakanya sikap yang diambil pemerintah cenderung penuh keraguan ke dalam dan lemah posisi tawar internasional keluar. Dan sikap yang sangat saya kutuk adalah sikap yang dikeluarkan demi memperpanjang umur berkuasanya, dan memilih sikap yang paling aman, yakni pro korporasi, pro lembaga keuangan dan dagang internasional (World Bank, IMF, WTO, dan lain-lain), dan Negara adidaya ekonomi (Amerika Serikat, Australia, China, dan sebagainya). Untuk ini kita Tidak usah jauh-jauh mencari contoh. Tidak hanya urusan Impor daging yang berkelit di tataran birokratif, juga beberapa hal lain yang sudah santer terdengar seperti kebijkan impor beras yang kadang zero tariff, perseroanisasi Bulog, izin masuk bibit transgenic, sertifikasi tanah dan privatisasi air, reformasi agraria dengan 40 persen tanah untuk korporasi, legalisasi illegal loging, kasus pembiaran Banjir Lumpur Lapindo Brantas, gila-gilaan kelapa sawit oleh pengusaha Malaysia, negaranisasi dalam Negara dari Freeport MacMoran, dan sebagainya.

Input’s Supply: States Subsidies vs Free Trade

Peternakan untuk produksi pangan dimana-mana di dunia, khususnya dunia belahan utara (Negara-negara industry makmur) justru disubsidi oleh Negara dengan berbagai bentuk. Tariff masuk bagi barang yang sama, yang merupakan bariers dagang berdampak seperti subsidi terhadap produksi domestic. Mengapa? Karena pangan hasil hewan berbicara bukan hanya pada tataran perut, melainkan berdampak erat dengan dampak politik pertahanan. Urusan perut tidak bias diserahkan kepada mekanisme pasar, karena sejujurnya berdampak sistemik terhadap pertahanan bangsa. Pasar pangan dunia yang sepintas terlihat stabil dalam jangka waktu yang pendek, sebenarnya sangat fluktuatif bila terjadi bencana gagal panen atau terjadi perang berkepanjangan, atau miss-policy seperti Indonesia yang sangat bergantung pada impor.

Argumentasi pribadi saya, sangat fatal jika Negara agraris yang berpenghasilan amat kecil, menggantungkan diri terhadap impor. Bisa jadi harga beras atau daging yang semula murah di pasar, dalam sekejap bisa menjadi semakin mahal, karena dibuat mahal oleh korporasi beras atau daging yang dibantu oleh Negara tetangga. Apalagi pangan adalah produksi utama dan pertama kebanyakan penduduk Indonesia. Dengan kata lain, bila tidak memproduksi pangan maka tidak bekerja atau kehilangan kesempatan kerja. Pasalnya, tarik menarik antara pangan dan peluang kerja amat besar. Kalau Jepang masih memperkenalkan tariff besar sebesar 400 persen, Australia masih mensubsidi gandum petani sebesar 40 persen, Negara masyarakat ekonomi Eropa masih mensubsidi pertanian dengan pemenuhan riset dan aplikasi teknologi, adalah sebuah kebodohan maha dahsyat jika pemerintah Indonesia berlaga di ring tinju pasar bebas tanpa tanpa satu pun proteksi untuk petani penghasil pangan, termasuk peternak. Itulah nyatanya jelas-jelas pemerintah kita, pemerintah Republik Indonesia.

Konsekuensi logisnya sangatlah mudah. Jika pilihan pemerintah hendak memihak kepada rakyat, berpihak pada peternak. Konsepnya adalah states subsidies. Dan pilihan terjebak dalam food trade adalah suatu kebodohan sikap. Tentu saja jika lembaga-lembaga keuangan dan perdagangan global selalu mendikte, menyuruh, dan memerintah kita bahkan memaksa kita untuk mengenyahkan istilah subsidi dan tariff, sementara di sisi lain mereka melakukan proteksi besar-besaran terhadap petani mereka, maka ini akan berdampak pada kerugian kita dalam berbagai hal. Kerugian dalam segi ekonomi hingga kerugian dalam hal effects, yakni pembodohan massal.

Pada intinya, peternakan dalam skala khusus jangan dikomodifikasikan, tapi dihargai sebagai benteng ketahanan dan pertahanan bangsa. Food policy harus tersendiri dan terlepas dari policy cash crop. Alokasi lahan adalah hal yang primordial untuk dipenuhi, terutama lahan yang subur. Pemerintah harus dan wajib memberikan subsidi pada produsen pangan yang beraneka ragam, bukan hanya ‘beras’. Itulah pilihan dari konsekuensi memilih jalan agriculture states bukan agribusiness states.

Mensiasati Negara Lupa Bangsa

Tembakan Garda khusus adalah salah satu upaya untuk mensiasati Negara yang lupa bangsa. Lupa akan bagian sebagai bangsa yang berdaulat. Tidak hanya berhenti pada tataran spesifik mengenai perjuangan mengawal swasembada tetapi tutur juga melakukan proses pengawalan hingga sampainya subsidi kepada peternak kecil di level grass root. Tak kalah penting adalah tangga sosial yang perlu diperkuat dengan menyiapkan generasi muda. Generasi muda yang tidak salah dalam bersikap. Setidaknya, saya menemukan kesalah paradigm berpikir kita, tentang makna tempat menempa generasi muda, yakni sekolah.

Barangkali, pengaruh sekolah sosiolog modernisasi selalu mengatakan bahwa yang ‘tinggi’ teknologi dan manajemen adalah pencapaian signifikan, dan tanda modernisasi. Sedangkan, yang ‘rendah’ teknologi dan manajemen, sebaliknya adalah pencapaian tidak signifikan, dan tanda ketertinggalan. Pilihan selalu untuk modernisasi. Semoga Insan ISMAPETI dapat melihat lebih jeli tentang makna modernisasi dan strategi khusus agar tidak terbawa arus. Agar mampu mengatarkan Negara ini menjadi Negara yang melek bangsa. Bangsa yang berdaulat. Bravo Indonesia. Bravo ISMAPETI.

Tarmidzi Taher Abdussalam

Ketua Umum Pengurus Besar ISMAPETI 2012-2014

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s