Hasil ChatNas (2): Memantapkan Sapi Lokal Indonesia

ISMAPETI mengadakan Chating Nasional (ChatNas) (2) pada hari Kamis, 15 Maret 2012 mulai pukul 20.00 WIb. Kegiatan ini rutin dilaksanakan setiap minggu pertama dan ke tiga disetiap bulannya. Tujuan kegiatan ini adalah silaturahmi antar sesama mahasiswa peternakan, membahas isu-isu hangat, meningkatkan bergaining position ISMAPETI, berbagai informasi seputar kondisi peternakan di daerah-daerah dan evaluasi kegiatan-kegiatan ISMAPETI. Semoga ini merupakan sarana untuk meningkatkan kualitas dan ketajaman keilmuan di masing-masing bidang profesi. ChatNas ke-2 ini dihadiri oleh univ. Andalas (Padang), Univ.  Bengkulu (Bengkulu), Univ. Jambi, IPB, Univ. Jenderal Soedirman (Purwokerto), UGM, dan Univ. Udayana (Bali).

Supaya memantapkan arah kajian saat ChatNas, sebelumnya PB ISMAPETI akan memberikan pengantar kajian yang bisa di baca d www.pbismapeti.wordpress.com ataupun teman-teman bisa memberikan masukan untuk tema kajian selanjutnya melalui facebook : pbismapeti atau ke email ismapeti@gmail.com.

Tema besar dalam ChatNas ke-2 adalah Pemantapan Sapi Lokal Indonesia. Seperti telah kita ketahui, tahun lalu pemerintah (baca: kementan) sudah memberikan pengakuan terhadap beberapa rumpun ternak asli kita, terutama ada lima rumpun ternak asli Indonesia dari golongan ruminansia besar. Kelima rumpun ternak tersebut adalah sapi bali (Bali), sapi aceh (Aceh), sapi pesisir (Sumbar), sapi madura (Madura) dan sapi sumbawa (NTB). Pengakuan tersebut sesuai dengan amanat UU No. 18 tahun 2009 tentang pemerintah wajib mengatur pewilayahan sumber bibit dengan diperkuat Permentan No. 48 tahun 2011 tentang Pewilayahan Sumber Bibit.

Menurut Puji dari Univ. Jambi mengatakan, perkembangan peternakan di daerah Jambi belum terlalu berkembang. Banyak sekali permasalahan yang terjadi, seperti bantuan dari pemerintah yang secara cuma-cuma berupa ternak kepada masyarakat tidak tepat dalam pelaksanaannya. Banyak para penerima bantuan malah menjual ternaknya karena didorong dari faktor ekonomi yang kurang. Ada juga masyarakat yang ternaknya mati ataupun bermasalah dengan kesehatannya serta reproduksinya, sehingga tidak berkembang. Jambi sekarang lagi seleksi penerimaan bantuan ternak kepada para peternak dari jamsostek dengan total bantuan mencapai 1 milyar.

Niko dari Univ. Andalas, Padang membedah program pemerintah terhadap peningkatan sapi pesisir. Pemerintah Sumbar mendukung pengembangan sapi pesisir untuk mendukung peningkatan kesejahteraan masyarakat pesisir dengan melaksanakan kerjasama dengan dinas terkait seperti BIB Tuah Sakato dan BPTU dalam meningkatkan mutu genetiknya. Disamping itu, penerima peserta SMD disana masih kurang banyak. Harapannya dengan adanya program SMD ini, pengeloalaan peternakan sapi pesisir bisa lebih baik dan bernilai ekonomis dengan bimbingan sarjana peternakan. Pemerintah Sumbar juga sudah mempunyai Sumbar Breeder Club (SBC) yaitu sebuah kebijakan yang dibuat oleh dinas bekerjasama dengan para pengusaha ternak, Balai Inseminasi Bautan (BIB) Tuah Sakato di Lima Puluh Kota, Balai Pembibitan Ternak Unggul (BPTU) Sapi potong Padang Mengatas dengan tujuan memang meningkatkan genetik dari ternak tersebut

Heru dari IPB menyampaikan kekhwatirannya terhadap kualitas sarjana dan mahasiswa peternakan. Dilihat dari program SMD yang bulan kemarin sudah ditutup, sedikit sekali yang berminat jadi calon peserta SMD. Apakah hal ini berhubungan dengan kegiatan dan aktivitas mahasiswa selama dikampus kurang matang atau kurang memahami konsep dasar manajemen peternakan. Disamping itu, kekhawatiran terhadap keinginan para peternak yang sudah sadar dengan teknik IB lebih memilih semen sapi sub-tropis yang memang memiliki struktur tubuh lebih besar dibanding semen ternak asli yang relatif mempunyai struktur tubu kecil. Jika hal ini terus-terusan terjadi, ternak asli tidak akan berkembang. Sudah saatnya mahasiswa paham terhadap produktivitas dari ternak asli kita dan mendukung program-program pemerintah baik pusat atau daerah dalam pengembangannya. Kemudian untuk mendukung tersedianya pasokan bakalan ternak lokal, diperlukan Village Breeding Centre (VBC) yaitu suatu wilayah yang diperuntukan untuk pembibitan dengan bibit-bibit yang berkualitas ternak asli Indonesia.

Putri dari Univ. Udayana Denpasar menyampaikan bahwa sapi bali sekarang mengalami peningkatan rata-rata per tahun 3.41 persen. Ada beberapa upaya program pemerintah daerah untuk mendukung pengembangan sapi bali, diantaranya 1) kelompok ternak harus ada dihampir semua desa di Provinsi bali, 2) SIMANTRI (Sistem Pertanian Terintegrasi), 3) Kredit Tanpa Anggunan (KTA), dan 4) Kredit usaha Pembibitan Sapi (KUPS). Peningkatan populasi tersebut dibarengi dengan permintaan peternak terhadap penyediaan semen pejantan bali di UPTD Baturiti beberapa tahun ini. Tentang SIMANTRI, Putri menjelaskan bahwa SIMANTRI adalah integrasi pertanian dengan peternakan. SIMANTRI sudah ada hampir di 150 unit di seluruh daerah di Bali. Pemda memberikan 20 ekor sapi kepada setiap unitnya dengan harapan terjadi simbiosis mutualisme didalamnya. Sekarang yang pasti kita mantapkan pemahaman kita mengenai Sapi Lokal Indonesia, sistem pemeliharannya dan kekuatan SDM.

Selanjutnya ChatNas (3) dilaksanakan Pada Tanggal 6/7 April 2012. Tema: Mengatur Impor Agar Teratur. Country Base atau Zone Base? Semoga ChatNas ini menjadi sarana untuk saling berkomunikasi mahasiswa peternakan Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s