Pengantar Kajian Nasional: Pemantapan Sapi Lokal Indonesia (2)

Setiap bulannya ISMAPETI akan mengadakan Chatting Nasional bersama Ketua lembaga Peternakan se-Indonesia. Chatting Nasional  (ChatNas) diadakan 2 kali dalam sebulan. Bentuk ChatNas berupa Kajian Nasional, Evaluasi Tri Wulan, dan Silaturahim Nasional. Konsep ChatNas mengedepankan 3M (Mengeratkan Tali Silaturahim, Menganalisis Kebijakan Pemerintah tentang Peternakan,  dan Meningkatkan Kualitas Kegiatan Mahasiswa). Tujuannya adalah memberikan yang terbaik untuk peternakan Indonesia dengan kemampuan diri yang teruji.

Tema Kajian Nasional minggu ini (Kamis, 15/3) yaitu Pemantapan Sapi Lokal Indonesia. Tema ini menjadi menarik untuk dikaji karena pemantapan sapi lokal adalah solusi jangka panjang yang dapat direalisasikan di Indonesia. Program pengembangan peternakan melalui penggemukan sapi sudah berjalan sangat baik. Pemanfaatan limbah peternakan dan pemberdayaan masyarakat sebagai peternak sapi potong merupakan pilihan yang tepat. Program pembibitan sapi lokal Indonesia perlu ditindaklanjuti secara serius karena program ini butuh proses untuk dapat berkelanjutan dengan baik. Bagaimana dengan fungsi pemerintah?

Pemerintah telah mengeluarkan langkah startegis dengan mengeluarkan Peraturan Pemerintah nomor 48/2011 tentang sumber daya genetik hewan dan perbibitan ternak serta pengelolaan, pelestarian dan pemanfaatannya. Terdapat juga 5 sapi potong Indonesia yang telah ditetapkan dalam Keputusan Menteri Pertanian (Kepmentan) sebagai bangsa/galur ternak asli Indonesia. Sapi Bali (No.325/Kpts/OT.1401/1/2010), Sapi Madura (No.3735/Kpts/HK.040/11/2010), Sapi Aceh (No.2907/Kpts/OT.140/6/2011. Sapi Pesisir (No.2908/Kpts/OT.140/6/2011) dan Sapi Sumbawa (No.2909/Kpts/OT.140/6/2011).

Namun apa tindak lanjut setelah ditetapkannya dalam Kepmentan? Bagaimana dengan kesiapan daerah untuk melaksanakan program pembibitan di daerahnya? Aceh telah mulai berpikir untuk menjadikan Pulau Raya sebagai sentra sapi Aceh. Bali juga telah menjaga sapi Bali nya dengan baik hingga domba sebagai pembawa penyakit yang berbahaya untuk sapi Bali dilarang masuk. Begitu pula dengan Nusa Tenggara yang saat ini mulai aktif untuk membentuk pusat pengembangan sapi Sumbawa. Dan sama halnya dengan Madura dan Sumatera Barat.

Daerah yang telah siap apakah ditunjang dengan SDM yang juga siap dan berkualitas? Berapa banyak sarjana peternakan yang digunakan untuk melakukan pengembangan pembibitan. Tidak banyak karena memang tidak menarik tetapi dapat dijadikan sangat menarik. Program Internasionalisasi, pemantapan riset genetik, kualitas SDM dan kematangan karakter SDM sangat diperlukan untuk menunjang program pemantapan Sapi Lokal Indonesia.

Pemerintah telah mulai melakukan tindakan strategis yang perlu ditindak lajuti oleh generasi selanjutnya. Sebagai Mahasiswa bertugas untuk melakukan analisis kebijakan, pematangan konsep, merekomendasikan solusi dan mengkontrol jalannya kebijakan. Saat ini, mari kita mulai dengan kajian ala mahasiswa.

Dalam kajian nasional ini kita akan analisis kebijakan tersebut, proram pembibitan di setiap provinsi di Indonesia, dan memberikan solusi atau rokumendasi kesiapan mahasiswa dalam pencapaian program Swasembada Daging Nasional dengan sudut pandang pemanfaatan Sumber Daya Lokal. Siapkan materi-materi kajian, jika perlu lakukan diskusi terlebih dahulu dengan ahli-ahli perbibitan yang ada di kampus. Selanjutnya tugas kita untuk menyampaikannya di kampus masing-masing. PB ISMAPETI.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s