Memantapkan Kesejahteraan Hewan pada Sapi Potong

ISMAPETI mengikuti Seminar Kesejahteraan Hewan Ternak (27-29/2) di Hotel Maharani, Jakarta. Seminar diselenggarakan oleh PB Persatuan Dokter Hewan Indonesia (PDHI), PB Ikatan Sarjana Peternakan Indonesia (ISPI), dan Meat and Livestock Australia (MLA). Kegiatan ini juga didukung oleh Direktorat Kesmavet dan Pascapanen Direktorat Jendral Peterakan dan Kesahatan Hewan dan Asosiasi Pengusaha Feedloter Indonesia (APFINDO).

Kegiatan berlangsung selama 2 hari. Hari pertama dibuka dengan seminar yang dihadiri oleh Drh. Akhmad Junaidi, Direktur Kesmavet dan Pascapanen; Yudi Guntara Noor, Ketua Umum PB ISPI; Perwakilan PB PDHI; Kepala Bagian Peternakan Dinas Kelautan dan Pertanian DKI Jakarta, Drh.Dzawil Hidjah. Hadir juga perwakilan dari MLA, Dinas-Dinas peternakan Jabodetabek, pemilik rumah potong hewan, dan pengusaha-pengusaha penggemakan sapi potong.

Dalam paparannya, Drh. Akhmad Junaidi, mengatakan, penerapan kesejahteraan hewan di Indonesia perlu diatur mengenai perkandangan, pemeliharaan, dan pengangkutan. Selain itu pemanfaatan hewan/ternak, cara pemotongan, dan perlakuan wajar manusia merupakan pokok-pokok dalam peraturan untuk kesejahteraan hewan di Indonesia. Drh. Dzawil Hidjah, menyampaikan, permasalahan RPH di Jakarta yaitu sulit diatur porsenil rumah potong hewan dan disiplin yang kurang.

Hari kedua seminar (28/2) dilanjutkan pembahasan mengenai isu kesejahterawaan hewan, rantai pasok pemasaran daging di Indonesia dan pengalaman Australia dalam penanganan hewan ternak. Dalam makalah yang disampaikan oleh drh.Wiwiek Bagja, terdapat 5 kebebasan untuk dari World Society for The Protection of Animals (WSPA), pertama bebas dari lapar dan harus; kedua, bebas dari penyiksaan fisik; ketiga, bebas dari rasa sakit; keempat, bebas dari rasa tertekan; dan, bebas untuk hidup alami. Menurut Rachadi Tawaf, Ketua I PB ISPI, penerapan kesejahteraan hewan akan mampu meningkatkan produktivitas ternak dan berdaya saing. Rachadi Tawaf menambahkan, terjadi hubungan yang sangat erat antara kesejahteraan hewan dan manusia, ilmu ekonomi dapat membantu untuk memahami lebih baik hubungan tersebut.

Dalam seminar yang akan diselenggarakan di empat kota yaitu Jakarta, Bandung, lampung dan medan ini disampaikan juga mengenai cara mengatasi ternak untuk digiring menuju kapal ataupun melakukan penurunan ternak. Terdapat penurunan yang mencolok pada ternak yang diperlakukan tidak baik. Transportasi dan penanganannya sebelum menuju rumah potong hewan juga menjadi faktor turunnya kualitas sapi potong. Hewan ternak memiliki sifat Allelomimetic atau cenderung melakukan hal yang sama pada saat yang sama. Contoh perlilaku Allelomimetic adalah sapi dan domba cenderung merumput pada saat yang sama dan istirahat, memamah biak pada waktu yang sama. Sehingga perlu perlakuan yang benar dalam menangani ternak.

Iskandar, perwakilan dari ISPI, mengungkapkan, manajemen rantai pasok sapi potong di Indonesia perlu dirapikan dan dimantapkan. Beberapa permasalahan sistem rantai pasok pada sapi potong adalah tingkat kematian pedet masih tinggi (20-40%), disparitas harga yang tinggi, banyak pemotongan sapi pada bobot belum optimal, dan sarana prasarana transportasi antar daerah yang tidak mendukung. Menurut perwakilan MLA, sistem manajemen pemeliharaan sapi potong di Indonesia merupakan sistem yang paling baik. Tetapi hanya saja rumah potong hewan yang tersebar di Indonesia perlu ditingkatkan kembali kualitasnya. PB ISMAPETI.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s