Indonesia Merdeka, Peternakan Kita ???

logo-resmi-kemerdekaan-indonesia-ke-70

            17 Agustus 2015 ini bangsa Indonesia genap berusia 70 tahun. Berbagai macam hal sudah mewarnai perjalanan bangsa kita sampai umur saat ini, susah, senang, sedih, bahkan cucuran darah. Berbagai macam peristiwa sudah terjadi mulai dari korupsi, bencana alam, wabah penyakit, bahkan sampai perubahan tonggak kepemimpinan. Namun hal yang dirasakan bangsa kita belum merdeka seutuhnya, terutama bidang peternakan kita.

Jika kita berbicara mengenai peternakan Indonesia, banyak terdapat peristiwa yang terjadi juga. Mulai dari isu swasembada daging yang telah di wacanakan pada tahun 2000, wabah penyakit yang menyerang beberapa daerah, kasus suap impor daging sapi, bahkan sampai saat ini yang sedang hangat masalah kouta impor daging sapi yang menyebabkan harga daging melambung naik. Berarti secara eksplisit peternakan kita belum merdeka.

Bidang peternakan merupakan salah satu bidang pangan yang merupakan salah satu komoditas yang paling utama dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Sektor peternakan banyak menghasilkan komoditas berupa daging, telur, dan susu yang menjadi konsumsi sehari-hari masyarakat Indonesia. Namun bidang ini mengalami banyak kendala dan hambatan sehingga sektor peternakan Indonesia tidak mengalami kemajuan dan hanya cenderung bergerak di tempat. Sektor ini banyak dikuasai oleh pihak-pihak asing sehingga bangsa Indonesia hanya sebagai tujuan penjualan dari komoditas-komoditas peternakan tersebut. Padahal Indonesia memiliki sumber daya alam yang melimpah dalam hal industri pangan ini. Namun hal-hal tersebut tidak menjadikan Indonesia kuat dalam bidang pangan. Oleh karena itu, salah satu kebijakan pemerintahan Republik Indonesia pada saat ini adalah memfokuskan pada masalah ketahanan pangan untuk masyarakatnya.

Kemudian tantangan kita muncul menjelang pasar bebas ASEAN 2015 yang akan mulai awal Januari 2016 nanti. Kesiapan Indonesia dalam sektor peternakan untuk menghadapi pasar bebas ASEAN masih sangat kurang dan bisa dibilang belum siap dalam menghadapi pasar bebas ASEAN ini. Namun siap atau tidak siap pasar bebas ASEAN sudah didepan mata kita dan bangsa Indonesia harus siap menghadapi hal tersebut. Kurangnya kesiapan Indonesia dalam hal daya saing, infrastruktur, dan penggunaan teknologi bila dibandingkan dengan beberapa negara ASEAN lainnya. Hal ini dapat menurunkan posisi tawar (Bargaining Position) negara Indonesia di bidang ekonomi khususnya ekspor dan impor. Selain itu, saat ini biaya logistik pada bidang peternakan di Indonesia masih terbilang tinggi jika dibandingkan negara Asia Tenggara lainnya. Logistik Indonesia belum memberikan output yang sepadan dengan biaya yang dikeluarkan. Kemudian masalah transportasi merupakan komponen yang berpengaruh pada biaya yang cukup besar di bidang peternakan Indonesia karena letak geografis dan kondisi wilayah Indonesia yang dinamis. Contohnya saja biaya transportasi untuk impor sapi potong dari Australia menuju Indonesia lebih murah dibandingkan dengan biaya transportasi lokal walaupun jarak tempuh lebih dekat. Hal ini menimbulkan harga kebutuhan pangan yang relatif besar akibat adanya penambahan biaya dari sektor transportasi (Syukur Iwantoro, Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan 2014).

Selain itu masalah akses transportasi yang sulit serta biaya transportasi yang relatif besar, terdapat beberapa hambatan lagi bagi kemajuan peternakan Indonesia :

  • Sistem perdagangan yang belum tertata dengan baik (persyaratan administrasi yang sulit dan memerlukan banyak biaya serta tenaga kerja untuk mengurusi administrasi tersebut).
  • Program pemerintah yang belum mengarah kepada kepentingan rakyat dan cenderung masih menyulitkan rakyat. Contohnya : pada program kredit usaha pembibitan sapi dan tingkat bunga dalam perkreditan yang masih sangat besar bagi peternakan rakyat.
  • Biaya pakan yang relatif tinggi akibat adanya kartel pakan pabrik.
  • Keterbatasan ilmu pengetahuan dari para peternak dan peran penyuluh yang kurang aktif dalam memberikan informasi dan pengetahuan kepada para peternak.
  • Kordinasi kementerian-kementerian terkait dalam masalah bidang peternakan yang menghambat proses usaha peternakan.
  • Kebutuhan alat-alat peternakan, pakan, bibit, dll yang masih tergantung dengan kebutuhan impor.
  • Kurangnya sinergisasi antara pemerintah, akademisi, pengusaha dan peternak rakyat.
  • Kurangnya perhatian pemerintah terhadap sumber daya genetic lokal khususnya dalam mematenkan suatu karya cipta.
  • Belum adanya perusahaan Breeding yang memiliki usaha skala komersial.
  • Perusahaan-perusahaan penggemukan sapi potong kurang meminati ternak lokal sebagai barang komoditasnya.
  • Masih rendahnya budaya konsumsi masyarakat Indonesia terhadap daging.
  • Kurangnya dukungan pemerintah kepada perusahaan-perusahaan BUMN yang bergerak di bidang peternakan.
  • Belum optimalnya pemanfaatan lahan perkebunan sebagai lahan peternakan.
  • Permaslaahan kouta impor daging yang masih dianggap kurang efektif.
  • Dan masih banyak lagi

Hal tersebut merupakan permasalahan yang harus segera diselesaikan oleh pemerintah Indonesia di umur 70 tahun ini khususnya di bidang peternakan.

Kedaulatan pangan bukan hanya sekedar tugas atau tanggung jawab dari salah satu pihak saja karena butuh kerjasama dari berbagai macam pihak jika ingin mewujudkan suatu kedaulatan pangan. Secara garis besar pihak-pihak terkait yang dapat membantu mewujudkan kedaulatan pangan bangsa Indonesia, diantaranya : Pemerintah, Akademisi, Masyarakat, peternak rakyat, dan para pengusaha. Pihak tersebut yang dapat membantu kedaulatan pangan secara internal dengan adanya sinergisitas antar pihak-pihak tersebut.

Pemerintah merupakan salah satu pilar penting dalam peternakan Indonesia. Pemerintah berwenang dalam hal pembuat kebijakan-kebijakan yang berkaitan tentang peternakan sehingga menguntungkan peternak rakyat dan melindungi aset-aset berharga yang dimiliki oleh Indonesia dalam bidang peternakan. Pemerintah juga bertugas dalam menyusun program-program berkelanjutan yang mengutamakan program pembangunan peternakan baik skala kecil, menegah, dan besar. Pemerintah juga berwenang dalam memberikan kredit usaha bagi peternak yang ingin memulai usaha peternakan dengan bunga kredit yang terjangkau sehingga pembayaran kredit dan usaha peternakan masyarakat dapat berlangsung secara sehat. Pemerintah juga berwenang dalam proses penyaluran bibit unggul, penelitian dalam bidang peternakan, penyuluhan, dan terus memerhatikan kebutuhan-kebutuhan yang diperlukan oleh peternak dalam mengembangkan usaha peternakannya. Kebijakan–kebijakan yang dibuat pada tahun 2015 harus mengacu kepada kondisi AEC 2015. Hal tersebut dimaksudkan untuk menjaga kedaulatan dan kepentingan Indonesia di bidang pangan khususnya sektor peternakan. Karena pada tahun 2015 proses perdagangan akan berlangsung secara global dan memungkinkan akan tergerusnya sumber daya alam lokal. Proses pembaharuan standarisasi barang-barang yang masuk ke Indonesia juga harus ditingkatkan karena untuk menjaga kualitas barang yang masuk sehingga masyarakat Indonesia menerima dan mengkonsumsi barang-barang dengan kualitas yang bagus. Kemudian pemerintah harus mengembangkan perusahaan-perusahaan breeding skala komersial agar ternak-ternak lokal mempunyai kualitas yang unggul. Disamping itu kementerian pertanian yang membawahi bidang peternakan harus saling bekerjasama dengan kementerian lain agar masalah-masalah peternakan yang ditimbulkan akibat adanya permasalahan yang menyangkut bidang lain dapat terselesaikan.

Akademisi merupakan salah satu pilar penting dalam memajukan kedaulatan pangan Indonesia. Akademisi memiliki peran dalam mengembangkan suatu ilmu pengetahuan yang mendukung kemajuan bidang peternakan dan menguatkan sumber daya alam lokal yang dapat digunakan untuk memajukan sektor peternakan Indonesia. Pemerintah harus mendukung proses penilitan yang dilakukan oleh akademisi dalam mengembangkan sektor peternakan Indonesia. Salah satunya dengan memberikan fasilitas untuk melakukan penelitian, memberikan bantuan dana penelitian, dan mempublikasikan sekaligus mematenkan hasil-hasil penelitian yang dilakukan agar tidak di klaim oleh negara lain sehingga bisa menjadi sumber daya lokal. Namun saat ini, dukungan pemerintah terhadap penelitian-penilitian yang dilakukan oleh akademisi baik dosen maupun mahasiswa masih belum maksimal dan terkesan lepas tangan. Padahal hal ini sangat membantu proses perkembangan bidang peternakan Indonesia. Kemudian akademisi memiliki tugas dalam pengabdian kepada masyarakat untuk memberikan ilmu yang didapatkan kepada para peternak. Sehingga para peternak rakyat yang umumnya memiliki pengetahuan yang rendah dapat memajukan peternakannya. Proses pengabdian yang dilakukan dapat berupa penyuluhan-penyuluhan dengan memerhatikan permasalahan yang ada dimasyarakat. Sehingga penyuluhan yang dilakukan tepat sasaran dan dapat menyelesaikan masalah. Kemudian akademisi dapat melakukan bina desa terhadap desa-desa yang memiliki keterbatasan ataupun masalah dalam bidang peternakan. Hal ini dimaksudkan agar masyarakat bisa belajar dalam menyelesaikan suatu masalah yang terjadi dan dapat berjuang secara mandiri untuk menghadapi suatu permasalah yang akan terjadi. Akademisi juga dapat membantu pemerintah dalam menentukan arah suatu kebijakan yang berkaitan dengan dunia peternakan. Akademisi juga dapat berperan sebagai tim ahli yang dapat membantu pemerintah dalam menyelesaikan suatu permasalahan jika pemerintah membutuhkan bantuan.

Masyarakat merupakan salah satu bagian pilar penting dalam industri peternakan. Masyarakat merupakan pasar atau tempat tujuan dimana komoditas-komoditas peternakan diperjual-belikan. Masyarakat juga merupakan aset penting untuk mendukung berkembangnya suatu usaha peternakan. Namun yang menjadi kendala adalah budaya konsumsi masyarakat untuk mengkonsumsi daging masih sangat minim. Hal ini disebabkan karena perbedaan budaya, kebiasaan, kemampuan, dan tingkat ekonomi masyarakat Indonesia. Pada negara berkembang mengkonsumsi daging atau susu merupakan hal yang kurang lazim dilakukan karena hal tersebut bukan merupakan menu harian dan biasanya masyarakat hanya mengkonsumsi sayur-sayuran atau umbi-umbian sebagai konsumsi harian mereka. Kemudian kebiasaan masyarakat yang lebih suka mengkonsumsi produk-produk luar negeri juga harus dirubah. Karena hal ini justru dapat memajukan perusahaan-perusahaan asing dibandingkan perusahaan dalam negeri. Oleh karena itu, butuh dukungan masyarakat juga untuk dapat memajukan suatu usaha peternakan jangan sampai para peternak lokal kehilangan pasar untuk menjual hasil-hasil peternakannya.

Pengusaha peternakan memiliki peranan penting dalam mengatur kebijakan usaha peternakan Indonesia. Pengusaha juga berperan dalam mempengaruhi kebijakan-kebijakan yang dibuat oleh pemerintah. Kemudian pengusaha berperan dalam mengatur stabilitas harga komoditas peternakan yang dijual. Pengusaha-pengusaha di bidang peternakan berfungsi sebagai sumber pemasukan negara Indonesia. Pengusaha dan pemerintah harus berjalan secara bersamaan, kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah juga harus mendukung kondisi atomosfir usaha peternakan sehingga kegiatan usaha peternakan di Indonesia dapat berkembang dan berlangsung secara sehat. Pengusaha-pengusaha peternakan asal Indonesia bisa dijadikan suatu tolak ukur kekuatan ekonomi peternakan Indonesia. Karena pengusaha Indonesia bisa menjadi garda terdepan dalam menentukan posisi tawar Indonesia di mata dunia dan pengusaha Indonesia bisa menjadikan bidang peternakan Indonesia berdaulat dalam bidang pangan sehingga tidak ketergantungan secara terus-menerus terhadap negara lain.

Peternakan rakyat merupakan suatu pilar yang tidak boleh dilupakan dalam komponen peternakan Indonesia walaupun tidak memberikan dampak yang signifikan terhadap peternakan Indonesia tapi peternak rakyat merupakan salah satu pilar pendukungnya. Peternak rakyat merupakan salah satu komponen yang harus dikembangkan karena peternak rakyat di Indonesia tersebar hampir di seluruh kepulauan Indonesia. Namun usaha peternakan rakyat masih sangat minim karena kondisi ekomoni masyarakat dan ilmu pengetahuan peternak tersebut. Jika pemerintah, akademisi dan pengusaha peternakan bisa mengembangkan para peternak rakyat maka kekuatan Indonesia dalam bidang pangan akan berdaulat. Peternak rakyat hanya memiliki beberapa ternak yang dipelihara, hal ini tidak cukup untuk mengembangkan suatu usaha peternakan disamping itu pengetahuan peternak di bidang peternakan juga minim. Hal ini merupakan kendala yang harus diselesaikan oleh pihak-pihak lain disamping masalah modal yang dialami. Pemerintah harus mendukung peternak rakyat dengan menyediakan kebutuhan berupa bantuan bibit, kredit, dan pasar untuk menjual ternaknya. Akademisi harus membantu peternak dalam masalah ilmu pengetahuan sehingga peternak dapat mengembangkan peternakannya dengan baik. Pengusaha harus membantu peternak dalam hal proses penjualan, pengusaha harus memberdayakan komoditas peternakan yang dihasilkan oleh peternak sehingga peternak dapat memperoleh hasil penjualan yang dapat digunakan untuk mengembangkan usahanya kembali. Sinkronisasi antara pemerintah, akademisi, dan pengusaha untuk memajukan peternak Indonesia harus terus dikembangkan sehingga para peternak Indonesia bisa sejahtera dan para peternak rakyat bisa menjadi sumber kekuatan pangan Indonesia. Sehingga kebutuhan pangan Indonesia tidak tergantung dengan negara lain dan kedaulatan pangan pun akan tercipta.

Kedaulatan suatu bangsa dapat tercipta dengan adanya dukungan dari berbagai macam pihak. Tanpa ada dukungan dari berbagai pihak mustahil kedaulatan negara dapat tercipta. Begitu juga dengan kedaulatan pangan, perlu adanya kerjasama dan sinergitas antara berbagai macam pihak jika ingin mewujudkan suatu kedaulatan pangan. Indonesia merupakan negara yang besar dimana suatu negara besar harus bisa mandiri dan berdiri sendiri tanpa ketergantungan dari negara atau bangsa lain. Negara yang berdaulat harus memiliki fondasi yang kuat untuk menopang segala aktivitas yang ada pada negara tersebut. Jika suatu fondasi yang disusun tidak kuat maka akan hancurlah suatu negara.

Atas Nama Peternakan Indonesia

Bid. Advokasi, Aksi, dan Propaganda PB. ISMAPETI

REKOMENDASI HASIL Focus Group Discussion ISPI – FPPTPI – ISMAPETI “Menemukan Jalan Keluar Kemelut Sapi Dan Daging Sapi”

IMG_1487 IMG_1488Akar masalah kemelut sapi dan daging sapi :

Data yang kurang akurat khususnya terkait dengan supply-demand daging sapi sehingga kebijakan yang diambil oleh pemerintah bisa menjadi kontroversi dan kurang produktif. Over estimasi suplai daging sapi local atau under estimasi proyeksi demand daging sapi atau bahkan inkurasi keduanya, menjadi salah satu penyebab tingginya harga daging sapi di pasaran khususnya di Jabodetabek, disamping faktor lain seperti hiruk pikuk pemberitaan media seperti langka bahkan krisis daging sapi.

Perbedaan pemahaman sistem dan tujuan pemeliharaan sapi juga menjadi salah satu penyebab langkanya atau terbatasnya suplai daging sapi lokal. Tujuan utama peternak rakyat dalam memelihara sapi bukan semata-mata untuk berbisnis dan diambil dagingnya akan tetapi sebagai tabungan hidup. Sapi milik peternak rakyat (yang mencapai 90% total populasi 12,5 juta ekor) akan dijual jika mereka membutuhkan uang seperti untuk membayar sekolah/kuliah, hajatan, biaya rumah sakit, membeli kebutuhan lain yang urgen (sawah, kendaraan, dsb…) atau memanfaatkan momentum hari besar agama seperti Idhul Qurban.

Pemahaman istilah-istilah teknis peternakan seperti karkas, daging sapi, daging impor, bobot hidup, sapi potong, sapi bibit dan seperti istilah ‘penimbunan’ vs ‘penggemukan’ dll. Perlu disamakan persepsinya diantara stakeholders agar tidak menimbulkan kerancuan berfikir dan tindakan yang dapat memiliki implikasi hukum.

Pemotongan sapi local termasuk betina produksi secara berlebihan akibat kurangnya pasokan akan membahayakan struktur populasi dan kelangsungan usaha sapi local dalam jangka panjang.

Rekomendasi Alternatif solusi :

Kami menghimbau kepada semua pihak terkait untuk secara jernih dan tidak mudah saling berburuk sangka dalam mensikapi kejadian tingginya harga daging sapi agar diantara kita para pihak dapat berdialog secara kritis-konstruktif dalam menemukan solusi ideal untuk kebaikan dan ketentraman masyarakat.

Kami dari ISPI-FPPTPI-ISMAPETI sebagai pihak independen siap membantu pemerintah dalam hal pembenahan akurasi data populasi ternak dan koefisiensi teknis peternakan sapi dengan melibatkan para dosen dan mahasiswa serta tenaga voluntir melalui kegiatan tri dharma perguruan tinggi. Kita harus menempatkan kebenaran data ibarat sabda Tuhan yang tidak boleh ‘dipermainkan’ demi kepentingan apapun oleh siapapun, mengingat data yang tidak akurat jika digunakan sebagai dasar pengambilan ke bijakan dampak negatifnya sangat luas dan merugikan masyarakat, bangsa dan negara.

Solusi yang akan diambil oleh pemerintah dalam menyelesaikan permasalahan daging sapi dalam waktu dekat ini diharapkan dengan tetap mengedepankan kepentingan kesejahteraan peternak dan memperhatikan investasi yang telah ditanamkan di sub sektor peternakan, melalui kebijakan strategis baik untuk peternak rakyat maupun perusahaan peternakan sapi serta kepentingan nasional jangka panjang.

Yogyakarta, 16 Agustus 2015

PB ISPI (Prof. Ali Agus)

FPPTPI (Dr. Jafrinur)

PB ISMAPETI (Tri Wahyu Utomo)

Babak Baru Kasus Daging Indonesia

Cerita ini berawal dari keresahan masyarakat terhadap harga daging sapi yang sangat tinggi. Banyak masyarakat kecil yang tidak bisa mengkonsumsi daging akibat pendapatan yang kurang mencukupi dan juga karena harga daging terlalu tinggi.

Cerita ini dimulai ketika dua orang ibu pergi kepasar untuk berbelanja, Surti dan Iyem pun berjumpa.

Surti    : (sambil berjalan menghampiri) “hey… Yem, mau ke pasar ya?”

Iyem    : (sambil melihat kantong) “iya lah bu, masa mau ke sekolah sih kan bawa kantong belanjaan. Mau beli apa Sur?”

Surti    : (tertawa kecil) “hehehe iya maap, rencananya mau beli daging nih buat ngerendang tapi masih bingung harganya mahal banget.”

Iyem    : “ ouuuh… , iya nih saya lihat diberita setelah pedagang mogok berjualan selama 4 hari ternyata ga ada perubahan juga. Harga daging masih tinggi malahan sampe Rp.140.000 /kg.”

Surti    : (tertawa licik) “wiiih update informasi juga nih hehe. Iya ya gimana ya buat masyarakat kecil kayak kita, harga segitu kan gede banget. Apalagi buat saya yang cuma buka warteg. Gimana ya??? Apa saya ga usah masak daging buat jualan nanti???”

Iyem    : “ya iyalah, kan saya punya TV dirumah apalagi saya kan baca kajian dari anak-anak ISMAPETI tuh lumayan lah. Iya sih susah juga buat kita masyarakat yang gajinya pas-pasan gini. Gimana mau beli daging, buat makan aja susah. Coba dibikin alternatif masakan yang lain aja Sur, kayak masak pake tempe, telor, tahu, atau apa gitu yang murah.”

Surti    : “kereen banget lo, ibu rumah tangga aja sampe baca kayak begituan. Nah rencananya mau masak kayak gitu juga Yem, tapi pas tadi liat berita di TV tadi ternyata setelah para pedagang selesai aksi mogok dagang tapi masalahnya belum selesai. Malahan harga daging ayam, telor, dan kebutuhan pokok yang lain juga ikut naik, Yem. Saya bingung nih jadinya mau dagang apa. Yaudah lah saya cari apa aja di pasar yang penting bisa jualan. Saya duluan ya, Yem, buru-buru nih soalnya.”

Iyem       : “Yang sabar ya, Sur, emang gini nasib jadi rakyat kecil mah. Okeh saya duluan juga mau ke tukang daging. Mau masak semur daging soalnya ibu mertua dateng ke rumah.”

Surti    : “okeh, duluan ya.”

Iyem    : “Sip deh.”

Kedua ibu tersebut berpisah. Iyem pergi ke tukang daging dan akhirnya Surti pergi ke tukang ikan.  Sesampainya di tugang daging akhirnya Iyem melakukan tawar menawar terhadap harga daging.

Iyem                : “Daging 1 kg berapa bang?”

Tukang daging : “135 ribu bu, mau berapa kilo?”

Iyem                : “Buset …. Mahal amat bang. Ga bisa kurang apa?”

Tukang daging : “Ga bisa bu, ini udah dari sananya. Saya aja pusing harganya ga turun-turun”.

Iyem                : (muka jutek) “Yaudah bang, 2 kg aja.”

Tukang daging : “Iya bu.”

Iyem                   : (sambil melihat tukang daging membungkus dagingnya) “bang kemaren ikut aksi mogok jualan?”

Tukang daging : (sambil tertawa) “iya bu hehe.”

Iyem                : “Emang ga rugi bang? Sampe 4 hari gitu?

Tukang daging : “Ya rugi sih tapi mau gimana lagi. Demi solidaritas bu antar sesama tukang daging. Kalo saya jualan kan ga enak sama yang lain.”

Iyem                : “Udah liat berita bang?”

Tukang daging : “Belum bu, berita apa emang? Paling harga daging naik lagi..”

Iyem                   : “ Bukan bang… tadi saya liat di TV polisi nemuin ada peternakan yang terindikasi menimbun sapi bang. Lumayan loh di peternakannya ada 21.000 ekor sapi dan 4.000 ekor diantaranya siap dipotong.”

Tukang daging : “Waduh sialan tuh orang… pedagang pada susah dia malah nimbun sapi”.

Iyem                 : “Eh tenang dulu bang… kan itu baru terindikasi belum tentu benar. Sekarang pihak kepolisian sedang mengusut kasus tersebut dan kalo terbukti terdapat hal-hal kecurangan maka akan di tindak sesuai hukum yang berlaku”.

Tukang daging : “Semoga aja deh bu masalahnya cepet selesai. Biar saya dagang juga ga susah.”

Iyem                 : “Aaamiiin, yaudah bang udah saya mau ke tukang daging ayam dulu ya”

Tukang daging : “Iya bu, makasih ya.”

Setelah bu Iyem selesai membeli daging, akhirnya dia pergi menuju rumah untuk langsung memasak daging tersebut. Disamping itu, bu Surti tiba di tukang ikan dan membeli ikan.

Surti                : “bang, kalo ikan 1 kilo berapa bu?”

Tukang ikan    : “20 ribu bu, mau beli berapa?”

Surti                : “Boleh deh bang 1 kg aja.”

Tukang Ikan    : “Siap bu.”

Surti                   : (sambil melihat tukang ikan membungkus) “Bang harga ikan ikut naik ga? Kan harga daging naik.”

Tukang ikan    : “Wah engga bu, masih relatif stabil. Malahan permintaan ikan meningkat bu.”

Surti                    : “Ko bisa ? Kan harga daging tinggi banget. Trus tadi juga kata ibu Iyem harga kebutuhan pokok yang lain juga ikut naik”.

Tukang ikan  : “Iya sih bu, tapi engga semua. Kalo harga ikan justru cenderung stabil bahkan jumlah permintaan meningkat. Hal ini dikarenakan masyarakat beralih dari daging ke ikan. Maka dari itu omset dari para petani ikan meningkat hampir 50% lebih.”

Surti                : “Owh gt bang. Udah selesai ikannya bang?”

Tukang ikan    : “Udah bu. Ini ikannya.”

Surti                : “Makasih bang.”

Setelah dari tukang ikan, akhirnya bu Surti memutuskan untuk pulang ke rumah untuk bersiap-siap masak untuk jualan di wartegnya. Sementara itu, Iyem sampai dirumah dan bertemu dengan suaminya kemudian langsung pergi ke dapur untuk memasak daging tersebut.

Sekian cerita singkat, semoga di balik cerita ini kita sama-sama bisa mendapat informasi mengenai kekisruhan harga daging kita dengan cara yang sederhana dan informasi yang dikemas secara ringan.

Bidang Advokasi, Aksi, dan Propaganda

PB. ISMAPETI periode 2014-2016

Gonjang-Ganjing Masalah Daging Indonesia

cut

Permasalahan daging Indonesia memasuki babak baru dalam masa pemerintahan yang berbeda. Jika kita masih ingat peristiwa yang lalu, kita dikejutkan oleh peristiwa suap impor daging sapi yang menjerat salah satu politisi partai. Kemudian permasalahan daging kita memasuki babak baru, yaitu harga daging kita melambung sangat tinggi yang tidak bisa di jangkau masyarakat Indonesia.

Permasalahan ini dimulai ketika pemerintah membuat kebijakan “Pengurangan Kouta Impor Daging Sapi”. Pemerintah menetapkan bahwa kouta impor sapi dari luar Indonesia dibatasi menjadi 400.000 ekor. Kouta impor tersebut dibagi kedalam tiga kuartal, yaitu : kuartal pertama 100.000 ekor, kuartal kedua 250.000, dan kuartal ketiga 50.000 ekor. Pada kuartal ketiga inilah muncul suatu masalah yaitu naiknya harga daging sapi di pasaran karena stok dilapangan tidak ada sehingga membuat para pedagang menjadi mogok berjualan.

Jika kita melihat latar belakang ini semua ada pertanyaan besar dimana peran peternak lokal kita dalam menjaga kestabilan daging sapi di Indonesia. Secara garis besar, jika kita bisa mengambil pokok permasalahan utama yang menjadi masalah daging kita adalah Permasalahan Demand dan Supply dan Perencanaan Kebijakan Pemerintah yang Kurang Tepat. Permasalahan Demand dan Supply ini merupakan masalah klasik yang sudah ada sejak lama karena kita sama-sama tahu jika jumlah permintaan daging di pasaran sangat tinggi sedangkan para peternak lokal kita tidak bisa memenuhi permintaan itu. Kemudian masalah perencaan kebijakan inilah yang patut untuk kita soroti karena banyak hal yang terjadi setelahnya.

Kebijakan pembatasan kouta impor daging ini memiliki banyak pro dan kontra. Jika kita melihat sisi positif dari kebijakan ini dengan adanya pembatasan kouta impor maka para peternak lokal kita memiliki banyak kesempatan lebih banyak untuk menjual dagingnya di pasaran. Kemudian dengan harga daging sapi yang tinggi menjadi stimulus buat peternak kita untuk kembali bergairah dengan usaha peternakannya. Pembatasasn kouta ini juga menjadi salah satu langkah kita untuk mengurangi ketergantungan kita akan impor dari Australia, dsb.

Berikut salah satu berita di tempo jika peternak rakyat kita setuju dengan kebijakan tersebut.

http://m.tempo.co/read/news/2015/08/10/090625/peternak-sapi-lokal-minta-pemerintah-tak-impor-sapi

Kemudian jika kita melihat sisi negatifnya, daya beli masyarakat akan daging pun menurun dampaknya harga daging yang melampau tinggi. Kemudian pedagang di pasar melakukan mogok kerja, demonstrasi para pedagang, dsb.

Ada hal yang patut kita perhatikan di balik aksi mogok para pedagang pasar. Jika kita sama-sama tau alokasi kouta daging impor di Indonesia diperuntukkan oleh oleh kalangan menengah atas seperti supermarket, restoran, hotel, dan sejenisnya. Sedangkan alokasi daging sapi di pasar lokal kita disuplai oleh para peternak lokal. Maka logikanya seharusnya para pedagang daging dipasar tidak perlu mogok karena kouta impor yang dibatasi. Kemudian pertanyaan besar muncul apakah ada permainan besar dibalik peristiwa mogoknya pedagang ini karena sama-sama kita ingat kalo permasalahan kouta impor ini rawan sekali adanya mafia-mafia daging seperti beberapa waktu silam.

Kami dai ISMAPETI (Ikatan Senat Mahasiswa Peternakan Indoensia) melihat kondisi saat ini sebagai efek kurangnya persiapan pemerintah dalam menangani permasalahan yang timbul akibat kebijakan ini dan kurangnya perencanaan dalam mempersiapkan dampak yang timbul akibat kebijakan impor ini. Kemudian penanganan yang dilakukan pemerintah kurang komprehensif dan hanya bersifat sementara dengan melakukan operasi pasar bahkan dengan membuka keran impor kembali sebanyak 50.000 ekor sapi melalui bulog seharusnya pemerintah melakukan penanganan secara menyeluruh mulai dari hulu ke hilir karena kita sama-sama tau masalah utama peternakan sangatlah kompleks tapi kita tidak boleh hanya menyalahkan pemerintah karena bagaimana pun juga pemerintah sudah melakukan segala yang terbaik untuk peternakan Indonesia.

Dirjen peternakan saat ini, dibawah kepemimpinan Prof. Dr. Ir. Muladno, MS sedang gencar menggalakkan program SPR (Sekolah Peternakan Rakyat). Hal ini dibuktikan dengan rencana akan mengimpor 1 juta indukan dari India dan Brazil yang akan menambah populasi indukan. Ada hal yang harus kita perhatikan dibawah kebijakan ini karena berkaitan dengan anggaran. Prediksi anggaran yang ada untuk impor bakalan yang ada sekarang hanya 50.000 ekor. Kemudian dialihkan ke indukan yang menembus angka 1 juta dari pembatasan tersebut dapat menggangu stabilitas harga yang membuat harga sapi lokal naik yang imbasnya harga daging sapi lokal pun naik.

Ada beberapa hal yang harus kita perhatikan dibandingkan itu semua karena pasti ada efek domino yang akan terjadi. Kemarin tanggal 11 Agustus 2015, terdapat berita di stasiun TV swasta jika peternak sapi di Jawa Timur akan melakukan pemotongan sapi betina produktif jika keadaan ini tidak berubah. Kemudian di bandung, harga-harga komoditas lain mengalami kenaikan seperti daging ayam. Setalah itu mendengar kabar pedagang daging di pasar yang mogok berjualan, terdengar kabar beberapa RPH (Rumah Pemotongan Hewan) melakukan stop pemotongan sebagai bentuk protes penurunan impor. Jika kita perhatikan stok daging di pasar berasal dari RPH walaupun stok sapi ada tetapi RPH melakukan stop pemotongan rantai daging ke pasar pun berhenti.

ISMAPETI melihat permasalahan ini sebagai sesuatu masalah yang janggal karena ada sesuatu masalah dibalik peristiwa ini semua. Ada beberapa peristiwa yang aneh terjadi yang patut untuk kita soroti bersama, yaitu :

  1. Mogoknya pedagang daging sapi di pasar

Menurut pengamat ekonomi Ichsanuddin Noorsy, “pasokan daging sapi di Indonesia sebanyak 80% di alokasikan kepada peternak lokal dan 20% dialokasikan untuk kepentingan impor terdapat kejanggalan karena alokasi 20% impor itu diperuntukkan untuk kepentingan kalangan menengah atas seperti supermarket, restoran mewah, hotel, dan sejenisnya dan alokasi 80% diperuntukkan oleh peternak lokal kita untuk memenuhi kebutuhan pasar tradisional. Kemudian pengamat ekonomi melihat akibat mogok pedagang ini kerugian yang di alami tidaklah sedikit karena ditaksir hampir mencapai ratusan miliar rupiah. Maka dari itu peristiwa ini rawan sekali terdapat kepentingan-kepentingan golongan.”

  1. Rencana pemerintah untuk mengimpor 1 juta indukan dari India dan Brazil.

Rencana pemerintah ini patut untuk kita perhatikan karena selama ini bangsa Indonesia memiliki ketergantungan impor sapi dari Australia. Hal ini mengindikasikan bahwa pemerintah ingin mengurangi ketergantungannya terhadap Australia dan ada kemungkinan terdapat motif politik luar negeri yang terselubung. Kemudian kita sama-sama tau jika India dan Brazil merupakan negara yang memiliki riwayat PMK (Penyakit, Kuku, dan Mulut) yang sampai sekarang masih menjangkit beberapa wilayah di negara tersebut.

  1. Penggiringan Opini Publik.

Kita sama-sama tau kondisi perekonomian negara kita sedang mengalami kemunduran. Hal ini terbukti dengan nilai tukar rupiah kita sedang terpuruk yang mencapai nilai Rp. 13.400 dan pertumbuhan ekonomi kita sebesar 4,7 persen. Nah dengan adanya isu daging ini, sedikit mengalihkan perhatian masyarakat dari masalah tadi menuju masalah isu naiknya harga daging ini.

  1. Kenaikan harga daging yang hanya terjadi di wilayah Jabodetabek dan Jawa Barat.

Keanehan kembali muncul karena harga daging hanya naik diwilayah Jabodetabek dan Jawa Barat sedangka daerah-daerah lain di wilayah Bali, Jawa timur, dan daerah lain tidak terdengar kenaikan harganya karena cenderung harganya relatif stabil. Hal ini mengindikasikan terdapat sesuatu yang janggal pada peristiwa ini. Kemudian ada indikasi jika terdapat permainan para importir untuk mempermainkan harga dipasaran.

  1. Efek Domino Kenaikan Harga Daging

Akibat melambungnya harga daging sapi, banyak kebutuhan barang pokok juga menjadi ikut naik diantaranya harga daging ayam yang juga ikut naik. Harga awal di pasaran dareah jabodetabek berkisar Rp.23.000 kini menjadi Rp.29.000 per Kg. Jika hal ini terus berlanjut maka akan berdampak pada harga kebutuhan pokok yang lain.

Hal tersebut yang menjadi tanda tanya besar dibalik peristiwa ini semua. Kami dari ISMAPETI mengajak seluruh teman-teman mahasiswa, masyarakat, stakeholder, peternak, dll untuk lebih cermat dan selektif dalam menyerap berita yang diterima. Jangan sampai kita terbawa oleh arus pemberitaan sehingga dapat menambah kekeruhan suasana. Kita harus sama-sama mencari solusi yang terbaik untuk permasalahan ini.

Kemudian kami menghimbau kepada pemerintah untuk lebih memperkuat jaringan perdagangan daging di Indonesia jangan sampai pemerintah terdikte oleh para importir. Pemerintah seharusnya dapat mengendalikan harga dan jika perlu masyarakat Indonesia lah yang mengendalikan pasar.

Atas Nama Peternakan Indonesia.

Bid. Advokasi, Aksi dan Propaganda PB. ISMAPETI Periode 2014-2016

Hari Susu Nusantara 2015

1433054343885

SELAMAT HARI SUSU NUSANTARA 01 JUNI 2015

“Segelas Susu Untuk Indonesia Lebih Maju”

Salam Cinta Dari Ujung Kandang,

Hidup Mahasiswa Peternakan Indonesia!

Sahabat-sahabat semuanya mahasiswa peternakan seluruh Indonesia baik dari ujung Sabang sampai Merauke. Salam hangat kita sampaikan, Indonesia bangga akan hadirnya kalian semuanya sahabat. Bagaimana tidak? suara kalian paling lantang diantara jutaan rakyat, langkah kalian paling kencang diantara ribuan stakeholder peternakan, dan Idealisme kalian paling mahal bahkan tak terbeli oleh nominal diantara ribuan orang yang gembor-gembornya berjuang untuk rakyat. “Bukan Lautan Hanya Kolam Susu. Kail dan jala bisa menghidupimu” inilah sepenggal sajak lagu dari Musisi senior Koes Plus yang melukiskan bagaimana bumi negeri ini yang begitu kaya dan subur. Inilah negara yang disebut-sebut bagaikan surga yang menurut beberapa agama merupakan tempat yang indah penuh dengan kenikmatan dan kebahagiaan yaitu Indonesia.

Senin tanggal 01 Juni 2015 merupakan moment besar bagi kita semua insan peternakan seluruh Indonesia. Hari ini merupakan momentual peringatan Hari Susu Nusantara sebagai bentuk refleksi kita bahwa selama bangsa ini ingin jauh berkembang maka sudah barang tentu akan membutuhkan susu untuk mencerdaskan kehidupan rakyatnya. Perlu kita sadari bahwa kondisi persusuan Indonesia masih jauh dari yang kita harapkan, konsumsi susu masyarakat Indonesia saat ini hanya 8 liter/kapita/tahun itu pun sudah termasuk produk-produk olahan yang mengandung susu. Konsumsi susu negara tetangga seperti Thailand, Malaysia dan Singapura rata-rata mencapai 30 liter/kapita/tahun, sedangkan negara-negara Eropa sudah mencapai 100 liter/kapita/tahun inilah potret kelam yang menjadi tanggung jawab kita semua Insan Peternakan Indonesia. Seiring dengan semakin tingginya pendapatan masyarakat dan semakin bertambahnya jumlah penduduk Indonesia, dapat dipastikan bahwa konsumsi produk-produk susu oleh penduduk Indonesia akan meningkat. Perkiraan peningkatan konsumsi tersebut merupakan peluang yang harus dimanfaatkan dengan baik. Akan tetapi kondisi produksi susu segar Indonesia saat ini, sebagian besar (91%) dihasilkan oleh usaha rakyat dengan skala usaha 1-3 ekor sapi perah per peternak. Skala usaha ternak sekecil ini jelas kurang ekonomis karena keuntungan yang didapatkan dari hasil penjualan susu hanya cukup untuk memenuhi sebagian kebutuhan hidup inilah beberapa permasalahan persusuan Indonesia. Padahal jika kita analisa bersama salah satu komponen dari subsektor peternakan yang memiliki banyak manfaat dan berpotensi untuk dikembangkan di Indonesia adalah agribisnis persusuan. Kondisi geografis, ekologi, dan kesuburan lahan di beberapa wilayah Indonesia memiliki karakteristik yang cocok untuk pengembangan agribisnis persusuan. Selain itu, dari sisi permintaan, produksi susu dalam negeri masih belum mencukupi untuk menutupi kebutuhan konsumsi dalam negeri. Saat ini produksi dalam negeri baru bisa memasok tidak lebih dari 30% dari permintaan nasional, sisanya 70% berasal dari impor.

Kekurangan produksi susu segar dalam negeri merupakan peluang besar peternak susu untuk mengembangkan usahanya. Namun demikian peternak masih menghadapi permasalahan, antara lain yaitu rendahnya kemampuan budidaya khususnya menyangkut kesehatan ternak dan mutu bibit yang rendah. Dalam hal pemasaran susu dari peternak dalam negeri, keberadaan Inpres No 4/1998 mengakibatkan posisi industri pengolahan susu menjadi jauh lebih kuat dibandingkan peternak karena industri pengolahan susu mempunyai pilihan untuk memenuhi bahan baku yang dibutuhkan yaitu susu segar dari dalam negeri maupun dari impor. Hal ini menyebabkan relatif rendahnya harga susu segar yang diterima oleh perternak dalam negeri. Masalah penting lainnya mengenai perkoperasian susu adalah proses pembentukan koperasi tersebut umumnya bersifat top-down dan intervensi pemerintah relatif besar dalam mengatur organisasi. Pembentukan anggota koperasi bukanlah atas dasar akumulasi modal anggota tetapi lebih banyak bersifat pemberian kredit ternak sapi dalam rangka kemitraan dengan bantuan modal dari pemerintah. Status anggota koperasi hanya berfungsi pada saat menjual susu segar dan pembayaran iuran wajib dan iuran pokok. Koperasi sebagai lembaga ekonomi dalam menjalankan manajemen tanpa pengawasan yang ketat oleh anggota, justru sebaliknya koperasi cenderung berkuasa mengatur anggota. Agar pangsa pasar susu yang dihasilkan peternak domestik dapat ditingkatkan maka masalah-masalah di atas perlu ditanggulangi dengan baik. Revolusi putih harus dilaksanakan sejak saat ini, yaitu dengan meningkatkan produksi dan konsumsi susu nasional. Revolusi putih yang berhasil akan menjamin terjadinya peningkatan kualitas kehidupan masyarakat Indonesia.

Sahabat-sahabat semuanya mahasiswa peternakan Indonesia, maka dari itu 01 Juni 2015 merupakan awal revolusi putih akan kita mulai dengan melakukan kegiatan (aksi, kampanye gizi, seminar nasional, audiensi, bakti sosial, pengabdian, dsb) dalam rangka memperingati Hari Susu Nusantara 2015. Selamat Hari Susu Nusantara kami sampaikan dari Pengurus Besar ISMAPETI “Segelas Susu Untuk Indonesia Lebih Maju” kita wujudkan peran ISMAPETI dari setiap pelosok negeri. Kalau tidak sekarang kapan lagi??? Kalau bukan kita mahasiswa peternakan siapa lagi???

Hidup Mahasiswa, Hidup Mahasiswa, Hidup Rakyat Indonesia!!!

Mengabdi Bersama ISMAPETI, Bersatu Membangun Negeri

Tri Wahyu Utomo,

Ketua Umum PB ISMAPETI 2014-2016

RAKERNAS ISMAPETI XIII

received_1585694741670445

Rapat Kerja Nasional ISMAPETI yang ke 13 akan dilaksanakan di Universitas Pembangunan Pancabudi, Medan, pada tanggal 7 sampai dengan 11 Mei 2015 dengan tema Semangat ISMAPETI, Berjuang untuk Peternakan Negeri. Kegiatan ini bertujuan untuk menentukan tata gerak organisasi dan program kerja nasional ISMAPETI untuk satu periode kedepan, selain itu kegiatan ini juga dimaksutkan untuk menjalin silaturahmi antar anggota ISMAPETI. Terdapat 3 agenda utama dalam kegiatan ini yaitu Seminar Nasional bertemakan “Dengan Semangat Desentralisasi Kita Tingkatkan Produksi dan Daya Saing Produk Peternakan Indonesia Menyongsong MEA 2015” yang diadakan pada tanggal 8 Mei 2015,  Rapat kerja Nasional pada tanggal 9 Mei 2015, dan  Kampanye Gizi pada tanggal 10 Mei 2015

Kami harapkan rekan-rekan insan peternakan dari seluruh penjuru negeri bisa menghadiri kegiatan ini, agar kita dapat bersama-sama menentukan nasib ISMAPETI kedapannya.

Informasi lebih lanjut dapat didapatkan dari :

Sekretariat Panitia

Himpunan Mahasiswa Peternakan Fakultas Pertanian UNPAB Jl. Gatot Subroto Km. 4,5 Medan

Email :rakernas13ismapeti@gmail.com twitter: @FPUnpab
Blog: http://www.rakernas13Ismapeti.blogspot.com
CP : Bobbi Prtama (085359851915) dan Siti Rahmadani (087809005053)

Menuju MUNAS XIII ISMAPETI

munas-ismapeti-malangMusyawarah Nasional ISMAPETI yang ke-13 akan dilaksanakan di Universitas Muhammadiyah Malang. Kegiatan yang akan dilaksanakan selama lima hari (20-25/1/15) ini mengusung tema “Mengabdi Untuk ISMAPETI, Bersatu Membangun Negeri”. Rangkaian kegiatan utama pada MUNAS XIII ISMAPETI ini terdiri dari rapat pleno pembahasan LPJ, AD/ART, dan Pemilihan Ketua Umum beserta perangkatnya. Selain agenda utama, pada rangkaian kegiatan MUNAS XIII ini juga akan ada beberapa agenda kegiatan yang nantinya diharapkan dapat menambah wawasan dan sebagai ajang pengkajian isu-isu peternakan yang sedang hangat diperbincangkan. Kegiatan tersebut diantaranya ada stadium general, seminar nasional, fieldtrip, aksi gizi, dan masih banyak lagi kegiatan yang lainnya.

Seminar nasional yang akan diadakan mengusung tema “AEC 2015 Antara Peluang dan Ancaman Pengembangan Sub Sektor Peternakan”. Seminar nasional ini akan menghadirkan beberapa pakar dari pemerintahan, pelaku industry peternakan, dan akademisi. Selain Asean Economy Community 2015 juga akan ada isu mengenai impor daging dan isu hangat lainnya.

Kami tunggu kehadiran rekan-rekan ISMAPETI di MUNAS XIII ISMAPETI di MALANG. Salam Harmoni Perubahan !

More info : YOGA PUTRA KAHALIMI (087756283909) ; HERLINDA DILA DWI E (085784991868)

Media Partner :

logo LR_ijo